Oleh
M.
Aldi Irfan
Shalawat
berarti doa, baik untuk diri sendiri, orang banyak atau kepentingan bersama.
Sedangkan shalawat sebagai ibadah ialah pernyataan hamba atas ketundukannya
kepada Allah Swt. serta mengharapkan pahala dari-Nya, sebagaimana yang
dijanjikan Nabi Muhammad Saw. bahwa orang yang bershalawat kepadanya akan
mendapat pahala yang besar, baik shalawat itu dalam bentuk tulisan maupun lisan
(ucapan).
Telah
diuraikan oleh Al-Imâm Ibn Al-Qayyim dalam kitabnya Jalâul Afhâm, katanya:
“Telah bermufakat semua ulama Islam atas wajib bershalawat kepada Nabi,
walaupun mereka berselisih tentang wajibnya di dalam sembahyang. Segolongan
ulama tidak mewajibkan bershalawat di dalam sembahyang. Di antaranya ialah,
Al-Thahawî, Al-Qâdhî al-‘Iyâd dan Al-Khaththabî. Demikianlah pendapat para
fuqaha selain dari Al-Syâfi’i.” Dengan uraian yang panjang Al-Imâm Ibn
Al-Qayyim membantah paham yang tidak mewajibkan shalawat kepada Nabi Saw. di
dalam sembahyang dan menguatkan paham Al-Syâfi’i yang mewajibkannya
Al-Imâm
Ibn Al-Qayyim berkata: “Tidaklah jauh dari kebenaran apabila kita menetapkan
bahwa shalawat kepada Nabi itu wajib juga dalam tasyahhud yang pertama. Cuma
hendaklah shalawat dalam tasyahhud yang pertama, diringkaskan. Yakni dibaca
yang pendek. Maka apabila kita renungkan faham-faham yang telah tersebut itu,
nyatalah bahwa bershalawat kepada Nabi itu disuruh, dituntut, istimewa dalam
sembahyang dan ketika mendengar orang menyebut nama Nabi Muhammad Saw.
Sholawat
kepada nabi tujuannya adalah agar kita mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad
Saw, ada beberapa macam sholawat diantaranya adalah sholawat diba’iyah,
sholawat simthud dhuror, sholawat nariyah, sholawat burdah, dll. Orang islam di
seluruh dunia pasti sudah mengetahui sholawat-sholawat tersebut dan pastinya
sudah pernah mengemalkannya. Ironis sekali kalau orang islam tidak pernah
membaca sholawat.
Pembacaan
sholawat biasanya dilakukan secara bersama-sama dan bergilir dari rumah ke
rumah, khususnya di desa budaya bersholawat masih sangat kental sekali, mereka
masih bersemangat untuk bersholawat dari rumah ke rumah dan biasanya di masjid
para pemuda masjid mengadakan acara bersholawat bersama, dan pada zaman
sekarang ini bersholawat semakin mempunyai estetika karena di iringi dengan
beberapa macam alat musik seperti albanjari, piano, gitar, dll.
Sholawat
dengan diiringi alat musik menambah estetika dan semangat untuk
bersholawat, hal tersebut merupakan
inovasi dan terobosan pada zaman sekarang yang sangat bagus sekali, karena pada
zaman modern ini para generasi mudah lebih suka dan semangat menghafal
lagu-lagu tentang percintaan daripada menghafal sholawat kepada Nabi.
Bersholawat akan mempererat tali silaturahmi anatara sesama manusia dan
khusunya mempererat silaturahmi kepada Nabi Muhammad Saw.
Sebuah
hadits "Tahukah kalian tentang sesuatu yang paling cepat mendatangkan
kebaikan ataupun keburukan? 'Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan,'
sabda Rasulullah SAW, 'adalah balasan (pahala) orang yang berbuat kebaikan dan
menghubungkan tali silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan
keburukan ialah balasan (siksaaan) bagi orang yang berbuat jahat dan yang
memutuskan tali persaudaraan" (HR Ibnu Majah).
Silaturahmi
tidak sekedar bersentuhan tangan atau memohon maaf belaka. Ada sesuatu yang
lebih hakiki dari itu semua, yaitu aspek mental dan keluasan hati. Hal ini
sesuai dengan asal kata silaturahmi itu sendiri, yaitu shilat atau washl, yang
berarti menyambungkan atau menghimpun, dan ar-rahiim yang berarti kasih sayang.
betapa
pentingnya menyambungkan tali silaturahmi dan memperkuat nilai persaudaraan
tersebut. Betapa tidak! Dengan silaturahmi maka akan terjalin rasa kasih sayang
dengan sesama manusia, bahkan dengan makhluk Allah lainnya. Bila ini terjadi
maka rahmat dan kasih sayang Allah pun akan turun dan menaungi hidup kita.
Salah satu cara agar selalu
bersilaturahmi dengan orang lain dan sekaligus dengan Nabi Muhammad Saw adalah
dengan bersholawat secara bergilir dari satu rumah ke rumah yang lain. Salah
satu sholawat yang bisa digunakan dan dibudayakan adalah sholawat simthud
dhuror, sholawat simthud dhuror adalah
karangan dari Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Nasab Habib Ali bersambung
kepada Rasulullah SAW, melalui jalur Sayiidina Husein, lengkap yaitu Habib Ali
bin Muhammad bin Husein bin Abdullah bin Syeikh bin Abdullah bin Muhammad bin
Husien bin Ahmad Shohibusy Sy’ib bin Muhammad Asghor bin Alwi bin Abubakar
Al-Habsyi berlanjut terus sampai kepada Sayyidan Ali bin Abi thalib dan
Sayyidatina Fatimah Az-Zahra.
Ketika
usia Habib ‘Ali menginjak 68 tahun, ia menulis kitab maulid yang diberinya nama
Simtud Durar. Pada suatu hari anakku Muhammad datang menemuiku dengan membawa
pena dan kertas, kemudian berkata kepadaku, ‘mulailah sekarang.’ Aku pun lalu
memulai-nya.” Kemudian dalam majelis lain beliau mendiktekan maulidnya: Pada
hari Selasa, awal Rabi’ul Awwal 1327 H, ia memerintahkan agar maulid yang telah
beliau tulis dibaca. Beliau membukanya dengan Fatihah yang agung. Kemudian pada
malam Rabu, 9 Rabi’ul Awwal, beliau mulai membaca maulidnya di rumah beliau
setelah maulid itu disempurnakan. Beliau berkata, “Maulid ini sangat menyentuh
hati, karena baru saja selesai diciptakan.” Pada hari Kamis, 10 Rabi’ul Awwal
beliau menyempurnakan-nya lagi. Pada malam Sabtu, 12 Rabi’ul Awwal 1327 H, ia
membaca maulid tersebut di rumah muridnya, Sayyid ‘Umar bin Hamid as-Saggaf.
jombang merupakan kota
dengan banyak pondok pesantren, baik pondok yang besar maupun pondok yang
kecil. Sehingga jombang disebut sebagai kota santri, dan tidak heran pula di
jombang budaya bersholawat masih sangat kental dan masih digemari. Orang tua
sampai yang mudah masih bersemangat untuk bersholawat. Salah satu sholawat yang
masih sering dibaca yaitu sholawat simthud dhuror.
Sholawat simthud dhuror di
jombang diadakan secara bergilir dari satu rumah ke rumah yang lain dan
sholawat tersebut dibaca secara rutin, setiap orang mendapatkan giliran untuk
pembacaan sholawat shimthut dhuror di rumahnya, tidak sedikit yang hadir dalam
pembacaan sholawat tersebut, meskipun jaraknya jauh dari rumah mereka tetapi
mereka tetap bersemangat untuk menghadiri pembacaan sholawat tersebut. Sholawat
simthud dhuror ini merupakan salah satu cara untuk mempererat tali silaturahmi
antara sesama manusia dan manusia dengan Nabi Muhammad Saw
Munculnya Maulid Simtud
Durar di zaman ini akan menyempurnakan kekurangan orang-orang yang hidup di
zaman akhir. Sebab, tidak sedikit pemberian Allah SWT kepada orang-orang
terdahulu yang tidak dapat diraih oleh orang-orang zaman akhir, tapi setelah
maulid ini datang, ia akan menyempurnakan apa yang telah terlewatkan. Dan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai maulid ini.
No comments:
Post a Comment