Sunday, November 1, 2015

Mempererat Tali Silaturahmi dengan Sholawat Simthud Dhuror di jombang

Oleh

M. Aldi Irfan

Shalawat berarti doa, baik untuk diri sendiri, orang banyak atau kepentingan bersama. Sedangkan shalawat sebagai ibadah ialah pernyataan hamba atas ketundukannya kepada Allah Swt. serta mengharapkan pahala dari-Nya, sebagaimana yang dijanjikan Nabi Muhammad Saw. bahwa orang yang bershalawat kepadanya akan mendapat pahala yang besar, baik shalawat itu dalam bentuk tulisan maupun lisan (ucapan).
Telah diuraikan oleh Al-Imâm Ibn Al-Qayyim dalam kitabnya Jalâul Afhâm, katanya: “Telah bermufakat semua ulama Islam atas wajib bershalawat kepada Nabi, walaupun mereka berselisih tentang wajibnya di dalam sembahyang. Segolongan ulama tidak mewajibkan bershalawat di dalam sembahyang. Di antaranya ialah, Al-Thahawî, Al-Qâdhî al-‘Iyâd dan Al-Khaththabî. Demikianlah pendapat para fuqaha selain dari Al-Syâfi’i.” Dengan uraian yang panjang Al-Imâm Ibn Al-Qayyim membantah paham yang tidak mewajibkan shalawat kepada Nabi Saw. di dalam sembahyang dan menguatkan paham Al-Syâfi’i yang mewajibkannya
Al-Imâm Ibn Al-Qayyim berkata: “Tidaklah jauh dari kebenaran apabila kita menetapkan bahwa shalawat kepada Nabi itu wajib juga dalam tasyahhud yang pertama. Cuma hendaklah shalawat dalam tasyahhud yang pertama, diringkaskan. Yakni dibaca yang pendek. Maka apabila kita renungkan faham-faham yang telah tersebut itu, nyatalah bahwa bershalawat kepada Nabi itu disuruh, dituntut, istimewa dalam sembahyang dan ketika mendengar orang menyebut nama Nabi Muhammad Saw.
Sholawat kepada nabi tujuannya adalah agar kita mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad Saw, ada beberapa macam sholawat diantaranya adalah sholawat diba’iyah, sholawat simthud dhuror, sholawat nariyah, sholawat burdah, dll. Orang islam di seluruh dunia pasti sudah mengetahui sholawat-sholawat tersebut dan pastinya sudah pernah mengemalkannya. Ironis sekali kalau orang islam tidak pernah membaca sholawat.
Pembacaan sholawat biasanya dilakukan secara bersama-sama dan bergilir dari rumah ke rumah, khususnya di desa budaya bersholawat masih sangat kental sekali, mereka masih bersemangat untuk bersholawat dari rumah ke rumah dan biasanya di masjid para pemuda masjid mengadakan acara bersholawat bersama, dan pada zaman sekarang ini bersholawat semakin mempunyai estetika karena di iringi dengan beberapa macam alat musik seperti albanjari, piano, gitar, dll.
Sholawat dengan diiringi alat musik menambah estetika dan semangat untuk bersholawat,  hal tersebut merupakan inovasi dan terobosan pada zaman sekarang yang sangat bagus sekali, karena pada zaman modern ini para generasi mudah lebih suka dan semangat menghafal lagu-lagu tentang percintaan daripada menghafal sholawat kepada Nabi. Bersholawat akan mempererat tali silaturahmi anatara sesama manusia dan khusunya mempererat silaturahmi kepada Nabi Muhammad Saw.
                    Sebuah hadits "Tahukah kalian tentang sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan? 'Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan,' sabda Rasulullah SAW, 'adalah balasan (pahala) orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah balasan (siksaaan) bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali persaudaraan" (HR Ibnu Majah).
                    Silaturahmi tidak sekedar bersentuhan tangan atau memohon maaf belaka. Ada sesuatu yang lebih hakiki dari itu semua, yaitu aspek mental dan keluasan hati. Hal ini sesuai dengan asal kata silaturahmi itu sendiri, yaitu shilat atau washl, yang berarti menyambungkan atau menghimpun, dan ar-rahiim yang berarti kasih sayang. betapa pentingnya menyambungkan tali silaturahmi dan memperkuat nilai persaudaraan tersebut. Betapa tidak! Dengan silaturahmi maka akan terjalin rasa kasih sayang dengan sesama manusia, bahkan dengan makhluk Allah lainnya. Bila ini terjadi maka rahmat dan kasih sayang Allah pun akan turun dan menaungi hidup kita.
                    Salah satu cara agar selalu bersilaturahmi dengan orang lain dan sekaligus dengan Nabi Muhammad Saw adalah dengan bersholawat secara bergilir dari satu rumah ke rumah yang lain. Salah satu sholawat yang bisa digunakan dan dibudayakan adalah sholawat simthud dhuror,   sholawat simthud dhuror adalah karangan dari Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Nasab Habib Ali bersambung kepada Rasulullah SAW, melalui jalur Sayiidina Husein, lengkap yaitu Habib Ali bin Muhammad bin Husein bin Abdullah bin Syeikh bin Abdullah bin Muhammad bin Husien bin Ahmad Shohibusy Sy’ib bin Muhammad Asghor bin Alwi bin Abubakar Al-Habsyi berlanjut terus sampai kepada Sayyidan Ali bin Abi thalib dan Sayyidatina Fatimah Az-Zahra.
                    Ketika usia Habib ‘Ali menginjak 68 tahun, ia menulis kitab maulid yang diberinya nama Simtud Durar. Pada suatu hari anakku Muhammad datang menemuiku dengan membawa pena dan kertas, kemudian berkata kepadaku, ‘mulailah sekarang.’ Aku pun lalu memulai-nya.” Kemudian dalam majelis lain beliau mendiktekan maulidnya: Pada hari Selasa, awal Rabi’ul Awwal 1327 H, ia memerintahkan agar maulid yang telah beliau tulis dibaca. Beliau membukanya dengan Fatihah yang agung. Kemudian pada malam Rabu, 9 Rabi’ul Awwal, beliau mulai membaca maulidnya di rumah beliau setelah maulid itu disempurnakan. Beliau berkata, “Maulid ini sangat menyentuh hati, karena baru saja selesai diciptakan.” Pada hari Kamis, 10 Rabi’ul Awwal beliau menyempurnakan-nya lagi. Pada malam Sabtu, 12 Rabi’ul Awwal 1327 H, ia membaca maulid tersebut di rumah muridnya, Sayyid ‘Umar bin Hamid as-Saggaf.
                    jombang merupakan kota dengan banyak pondok pesantren, baik pondok yang besar maupun pondok yang kecil. Sehingga jombang disebut sebagai kota santri, dan tidak heran pula di jombang budaya bersholawat masih sangat kental dan masih digemari. Orang tua sampai yang mudah masih bersemangat untuk bersholawat. Salah satu sholawat yang masih sering dibaca yaitu sholawat simthud dhuror.
                    Sholawat simthud dhuror di jombang diadakan secara bergilir dari satu rumah ke rumah yang lain dan sholawat tersebut dibaca secara rutin, setiap orang mendapatkan giliran untuk pembacaan sholawat shimthut dhuror di rumahnya, tidak sedikit yang hadir dalam pembacaan sholawat tersebut, meskipun jaraknya jauh dari rumah mereka tetapi mereka tetap bersemangat untuk menghadiri pembacaan sholawat tersebut. Sholawat simthud dhuror ini merupakan salah satu cara untuk mempererat tali silaturahmi antara sesama manusia dan manusia dengan Nabi Muhammad Saw
                    Munculnya Maulid Simtud Durar di zaman ini akan menyempurnakan kekurangan orang-orang yang hidup di zaman akhir. Sebab, tidak sedikit pemberian Allah SWT kepada orang-orang terdahulu yang tidak dapat diraih oleh orang-orang zaman akhir, tapi setelah maulid ini datang, ia akan menyempurnakan apa yang telah terlewatkan. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai maulid ini.

No comments:

Post a Comment